Kamis, 11 April 2013

Wisata Air Terjun Sikayan Balumuik

Menunggu Sentuhan Pemerintah
Di pinggiran Kota Padang, tepatnya di Desa Kotobaru, Gadut, Kelurahan Limaumanih Selatan, menyimpan keindahan alam yang mempesona. Masyarakat setempat menamakannya Air Terjun Sikayan Balumuik. Sayangnya, hingga kini kondisinya tak terperhatikan.

Air terjun ini berjarak 17 km arah ke timur Kota Padang, tepatnya di Kecamatan Pauh. Di objek wisata ini, dapat menikmati panorama dari puncak Sikayan Balumuik dan Lubuk Banyak Gariang.

Dari simpang Gadut, pe­ngunjung dapat menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dan memakan waktu sejam. Bagi pengendara motor, mesti melewati beberapa tanjakan dan turunan sambil menyisir ber­bagai jenis tanaman liar.

Jalan ke lokasi berlubang di sana sini dengan waktu tempuh satu jam perjalanan. Medannya cukup terjal dan melewati per­ke­bunan warga.

Jalanan yang lebarnya seje­ngkal memaksa pengunjung menyapu rerumputan jika ingin bergandengan. Rindangnya dedaunan memayung pe­ngun­jung dari terik matahari. Hem­busan oksigen di tiap pori-pori daun memperlambat datangnya kelelahan, hingga akar-akar kayu mengisyaratkan kehati-hatian.

Melangkah sedamai mu­ng­kin seiring arus sungai me­ngalir tenang. Dingin me­ng­gelitik kaki, tumit, hingga betis. Bebatuan sejoli sekali-kali meng­halangi perjalanan. Pada posisi berdiri aman, pengunjung dapat me­mu­tar penglihatan ke se­keliling hutan tropis yang me­magar pandangan. Dari po­hon-pohon perkasa di sana, berbagai jenis akar menumpang singgah. Ada kerukunan, kekerabatan dan satu kesatuan dari berbagai jenis tanaman. Cerminan ke­da­maian dari perbukitan Sikayan.

Sesampai di objek wisata Sikayan Batingkek, butiran-butiran air turun dari ketinggian 90 meter sesekali terasa bagai hempasan uap saat menampar wajah. Terobatilah penat setelah menelusuri puluhan meter deras arus yang dihiasi bebatuan gunung di sepanjang sungai. Desiran dua tingkat air terjun bak menyanyikan tembang la­was.  Di antara tingkatannya, lu­buk kecil pencucian muka ter­sedia secara alamiah. Liukan sungai pun dapat dijamah mata dari sana, sebuah desain Tuhan yang belum sempat tertata. Itulah, Sikayan Batingkek.

“Keindahan obyek wisata ini pernah disinggahi peneliti hutan tropis asal Portugal, per­ten­ga­han tahun lalu. Peneliti itu pun menemukan tanaman langka yang belum pernah mereka temukan di daerah lain. Ta­naman itu sejenis keluarga sambuang (sembung) yang unik,” kata Kasim, Ketua RT 03 RW 02, Limau Manis Selatan.

Kasim mengatakan, sebe­lumnya jalan menuju objek wisata ini tak bisa dilewati. “Be­rawal dari longsor, akhirnya jalan itu bisa dilewati,” tutur Kasim.

Ditambahkan tokoh mas­ya­rakat setempat, Buya Zainul Arifin, 64, di obyek wisata ini terdapat objek wisata Lubuk Banyak Gariang. Lubuk ini juga punya sejarah sendiri. “Pe­na­maan ‘banyak gariang’ sesuai dengan keadaan lubuk tersebut puluhan tahun yang silam. Ga­riang, nama salah satu sejenis ikan tawar,” ujar Zainul Arifin.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Padang, Ali Bas­yar saat meninjau objek wisata ini, mengatakan, pihaknya akan intens menyosialisasikan objek wisata ini serta meminta tang­gapan dari para ahli. Apa layak dan patut untuk dikembangkan, bernilai ekonomis dan me­mi­ni­malisir dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. “Tapi itu nanti, setelah ketiga tempat kita kunjungi,” ujarnya.
Padek, Sabtu (12/1/2013) by cr1/Debi Virnando

0 komentar:

Posting Komentar