Menunggu Sentuhan Pemerintah
Di pinggiran Kota
Padang, tepatnya di Desa Kotobaru, Gadut, Kelurahan Limaumanih Selatan,
menyimpan keindahan alam yang mempesona. Masyarakat setempat
menamakannya Air Terjun Sikayan Balumuik. Sayangnya, hingga kini
kondisinya tak terperhatikan.
Air terjun ini berjarak 17
km arah ke timur Kota Padang, tepatnya di Kecamatan Pauh. Di objek
wisata ini, dapat menikmati panorama dari puncak Sikayan Balumuik dan
Lubuk Banyak Gariang.
Dari simpang Gadut,
pengunjung dapat menempuh perjalanan sejauh tiga kilometer dan memakan
waktu sejam. Bagi pengendara motor, mesti melewati beberapa tanjakan dan
turunan sambil menyisir berbagai jenis tanaman liar.
Jalan ke lokasi berlubang di
sana sini dengan waktu tempuh satu jam perjalanan. Medannya cukup
terjal dan melewati perkebunan warga.
Jalanan yang lebarnya
sejengkal memaksa pengunjung menyapu rerumputan jika ingin
bergandengan. Rindangnya dedaunan memayung pengunjung dari terik
matahari. Hembusan oksigen di tiap pori-pori daun memperlambat
datangnya kelelahan, hingga akar-akar kayu mengisyaratkan kehati-hatian.
Melangkah sedamai mungkin
seiring arus sungai mengalir tenang. Dingin menggelitik kaki, tumit,
hingga betis. Bebatuan sejoli sekali-kali menghalangi perjalanan. Pada
posisi berdiri aman, pengunjung dapat memutar penglihatan ke
sekeliling hutan tropis yang memagar pandangan. Dari pohon-pohon
perkasa di sana, berbagai jenis akar menumpang singgah. Ada kerukunan,
kekerabatan dan satu kesatuan dari berbagai jenis tanaman. Cerminan
kedamaian dari perbukitan Sikayan.
Sesampai di objek wisata
Sikayan Batingkek, butiran-butiran air turun dari ketinggian 90 meter
sesekali terasa bagai hempasan uap saat menampar wajah. Terobatilah
penat setelah menelusuri puluhan meter deras arus yang dihiasi bebatuan
gunung di sepanjang sungai. Desiran dua tingkat air terjun bak
menyanyikan tembang lawas. Di antara tingkatannya, lubuk kecil
pencucian muka tersedia secara alamiah. Liukan sungai pun dapat dijamah
mata dari sana, sebuah desain Tuhan yang belum sempat tertata. Itulah,
Sikayan Batingkek.
“Keindahan obyek wisata ini
pernah disinggahi peneliti hutan tropis asal Portugal, pertengahan
tahun lalu. Peneliti itu pun menemukan tanaman langka yang belum pernah
mereka temukan di daerah lain. Tanaman itu sejenis keluarga sambuang (sembung) yang unik,” kata Kasim, Ketua RT 03 RW 02, Limau Manis Selatan.
Kasim mengatakan,
sebelumnya jalan menuju objek wisata ini tak bisa dilewati. “Berawal
dari longsor, akhirnya jalan itu bisa dilewati,” tutur Kasim.
Ditambahkan tokoh
masyarakat setempat, Buya Zainul Arifin, 64, di obyek wisata ini
terdapat objek wisata Lubuk Banyak Gariang. Lubuk ini juga punya sejarah
sendiri. “Penamaan ‘banyak gariang’ sesuai dengan keadaan lubuk
tersebut puluhan tahun yang silam. Gariang, nama salah satu sejenis
ikan tawar,” ujar Zainul Arifin.
Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Padang, Ali Basyar saat meninjau objek wisata ini,
mengatakan, pihaknya akan intens menyosialisasikan objek wisata ini
serta meminta tanggapan dari para ahli. Apa layak dan patut untuk
dikembangkan, bernilai ekonomis dan meminimalisir dampak negatif bagi
masyarakat dan lingkungan sekitar. “Tapi itu nanti, setelah ketiga tempat kita kunjungi,” ujarnya.
Padek, Sabtu (12/1/2013) by cr1/Debi Virnando







0 komentar:
Posting Komentar