Para pedagang kuliner di sepanjang Pantai Purus kembali bikin ulah. Meski telah dibantu payung bertenda tinggi kali kedua oleh donatur, payung bantuan itu malah diperjualbelikan. Akibatnya, para pedagang minuman dan makanan ringan di kawasan tersebut kembali menggelar payung ceper. Bantuan payung tenda tinggi itu diberikan dua bulan lalu oleh Herman Nawas, Ketua Yayasan UPI-YPTK Padang. Bila bantuan pertama payung tenda itu dipotong pedagang hingga ceper, bantuan kedua tenda-tenda itu malah dijual pedagang.
Ada sekitar 202 tenda bantuan.
Menurut informasi para pedagang, tenda-tenda bantuan itu dijual seharga
Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Seorang pedagang Pantai Purus, Siti, 46,
membenarkan penjualan tenda bantuan Herman Nawas oleh sebagian
pedagang. Mereka meraup Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu dari hasil
penjualan.
“Bantuan itu hanya berupa
tenda, sementara meja tidak ada. Padahal bantuan meja telah
dijanjikan, tapi tidak datang-datang juga. Karena meja-meja telah
disita Satpol PP waktu pembongkaran, hasil penjualan tenda itu
dibelikan pada meja dan kursi,” tutur Siti, kepada Padang Ekspres,
kemarin. Pedagang lain, Bujang, 54, mengungkapkan hal serupa. Pemko
melalui Herman Nawas pernah berjanji memberikan bantuan meja dan kursi
sebanyak jumlah payung. Meja dan kursi akan diserahkan satu minggu
setelah tenda dibagikan. Namun, hingga kemarin (8/3), janji itu belum
ditepati.
Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Padang, Ali Basar menyayangkan penjualan tenda bantuan
tersebut. Sebab, tenda-tenda itu diperbantukan kepada para pedagang
dengan harapan payung-payung ceper yang mengundang pengunjung berbuat
maksiat, bisa diantisipasi.
“Kita sudah upayakan yang
terbaik untuk pedagang dan masyarakat. Kita maklumi pedagang yang
mencari nafkah di sana, karena itu kita tidak ingin semena-semena.
Di sisi lain, kita juga harus
mempertimbangkan keresahan masyarakat dengan tenda ceper. Nah,
penggantian tenda, merupakan solusi. Apalagi diberikan secara
gratis,” jelasnya.
Ali Basar meminta betul
kesadaran para pedagang sebelum ada tindakan tegas. Perihal janji meja
dan kursi, Ali Basyar menegaskan tidak pernah menjanjikannya kepada
para pedagang.
Januari lalu, Ketua Yayasan
Pendidikan Tinggi Komputer (YPTK) menyerahkan bantuan tenda yang kedua
kali kepada para pedagang Purus.
Bantuan yang pertama diberikan pada Desember 2012 setelah para pedagang diberikan training
Emotional Spritual Quotient (ESQ) selama tiga hari. Sebanyak 102
pedagang beserta keluarga diberi materi kerohanian di gedung
Convention Centre, Universitas Putra Indonesia (UPI).
Usai diberi ESQ, para pedagang
di sepanjang Pantai Padang mengaku insaf. Mereka merasa berdosa telah
menyediakan tempat esek-esek bagi pengunjung warungnya. Hanya
berselang sebulan, mereka kembali membuka payung ceper. Secara
terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad
menilai, ada tiga faktor yang menjadi penyebab persoalan tersebut.
Pertama, fondasi keagamaan di rumah tangga belum terbangun dengan baik
sehingga jiwa dan rasa sadar belum terbangun. Faktor kedua, tidak
kokohnya masyarakat dalam menghadapi tekanan hidup. “Dalam hal ini,
ekonomi serta sistem pendidikan yang tidak sistemik turut mempengaruhi,”
tuturnya.
Persoalan ini tidak lagi dalam
konteks sosial, melainkan karakter individunya. “Nah, untuk mengubah
pola karakter itu, harus kaji lagi faktor yang melatar belakanginya.
Setelah itu, baru kita carikan solusi,” ujarnya.
Untuk menyikapi persoalan
tersebut, ada empat faktor yang harus dilakukan. Yakni, penegakan
hukum, membuka ruang usaha, pendidikan yang sistemik dan berkelanjutan
serta menanamkan rasa malu kepada generasi muda.
Padek, Sabtu (09/03/2013) by cr1/Debi Virnando







0 komentar:
Posting Komentar