Kamis, 11 April 2013

Payung Ceper Marak Lagi

Pedagang Pantai Jual Tenda Bantuan
Para pedagang ku­liner di sepanjang Pantai Purus kem­bali bikin ulah. Meski telah di­bantu payung bertenda tinggi kali ke­dua oleh donatur, payung ban­tu­an itu malah diperjualbelikan. Aki­batnya, para pedagang minu­man dan ma­kanan ringan di ka­wa­san tersebut kem­bali menggelar payung ceper. Bantuan payung tenda tinggi itu di­berikan dua bulan lalu oleh Her­man Nawas, Ketua Yayasan UPI-YPTK Padang. Bila bantuan pertama pa­yu­ng tenda itu dipotong pedagang hingga ceper, bantuan kedua tenda-tenda itu malah dijual pedagang.

Ada sekitar 202 tenda bantuan. Menurut informasi para pedagang, tenda-tenda bantuan itu dijual seharga Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Seorang pedagang Pantai Purus, Siti, 46, membenarkan pen­jualan tenda bantuan Herman Na­was oleh sebagian pedagang. Me­re­ka meraup Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu dari hasil penjualan.

“Bantuan itu hanya berupa tenda, sementara meja tidak ada. Padahal bantuan meja telah dijan­ji­kan, tapi tidak datang-datang juga. Karena meja-meja telah disita Satpol PP waktu pembongkaran, hasil pen­jua­lan tenda itu dibelikan pada meja dan kursi,” tutur Siti, kepada Padang Ekspres, kemarin. Pedagang lain, Bujang, 54, me­ngu­ngkapkan hal serupa.  Pem­ko melalui Herman Nawas pernah ber­janji memberikan bantuan meja dan kursi se­ban­yak jumlah payung. Meja dan kursi akan diserahkan satu minggu setelah tenda diba­gi­kan.  Namun, hingga kemarin (8/3), janji itu belum ditepati.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pa­riwisata Padang, Ali Basar menyayangkan penjualan tenda bantuan tersebut. Sebab, tenda-tenda itu diperbantukan kepada para pedagang dengan harapan payung-payung ceper yang men­gun­dang pengunjung berbuat maksiat, bisa diantisipasi. 

“Kita sudah upayakan yang terbaik untuk pedagang dan masyarakat. Kita maklumi peda­gang yang mencari nafkah di sana, karena itu kita tidak ingin semena-semena.

Di sisi lain, kita juga harus mempertimbangkan keresahan masyarakat dengan tenda ceper. Nah, penggantian tenda, me­ru­pakan solusi. Apa­lagi diberikan secara gratis,” jelasnya.

Ali Basar meminta betul ke­sadaran para pedagang sebe­lum ada tindakan tegas. Perihal janji meja dan kursi, Ali Basyar mene­gaskan tidak pernah men­jan­jikannya kepada para peda­gang.

Januari lalu, Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Komputer (YPTK) menyerahkan bantuan tenda yang kedua kali kepada para pedagang Purus.

Bantuan yang pertama dibe­rikan pada Desember 2012 setelah para pedagang diberikan training Emotional Spritual Quotient (ESQ) selama tiga hari. Se­ban­yak 102 pedagang beserta ke­luar­ga diberi materi kero­hanian di gedung Convention Centre, Universitas Putra Indonesia (UPI).

Usai diberi ESQ, para peda­gang di sepanjang Pantai Padang mengaku insaf. Me­reka merasa berdosa telah menyediakan tempat esek-esek bagi pe­ngun­jung warungnya. Hanya ber­selang sebulan, me­reka kembali membuka pa­yung ceper. Secara terpisah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang, Duski Samad menilai, ada tiga faktor yang menjadi penyebab persoalan tersebut. Pertama, fondasi kea­ga­maan di rumah tangga belum terbangun dengan baik sehingga jiwa dan rasa sadar belum ter­ba­ngun. Faktor kedua, tidak kokohnya masyarakat dalam menghadapi tekanan hidup. “Dalam hal ini, ekonomi serta sistem pendidikan yang tidak sistemik turut mempengaruhi,” tuturnya.

Persoalan ini tidak lagi da­lam konteks sosial, melainkan karakter individunya. “Nah, untuk mengubah pola karakter itu, harus kaji lagi faktor yang melatar belakanginya. Setelah itu, baru kita carikan solusi,” ujarnya.

Untuk menyikapi persoalan tersebut, ada empat faktor yang harus dilakukan. Yakni, pene­ga­kan hukum, membuka ruang usaha, pendidikan yang sistemik dan berkelanjutan serta me­na­namkan rasa malu kepada ge­nerasi muda.

“Pendidikan kesadaran re­maja oleh ulama, ninik mamak dan pemuka lainnya secara berkelanjutan serta penanaman rasa malu kepada generasi muda agar mereka tidak turut mera­maikan lokasi itu serta pen­didikan yang sistemik dan ber­ke­lan­jutan,” jelasnya.
Padek,  Sabtu (09/03/2013) by cr1/Debi Virnando

0 komentar:

Posting Komentar