Kamis, 11 April 2013

Unesco Apresiasi Songket Saluak Laka

Songket rep­lika motif saluak laka, meraih Award of Excellence for Handy­craft tahun 2012 dari Unesco. Terpilihnya song­ket replika motif saluak laka men­dapatkan penghargaan karena kegi­gihan dan ketekunan studio songket Erika Rianti memproduksi motif-motif songket lama yang sudah tak diproduksi lagi.

“Suatu prestasi yang patut kita banggakan. Hasil produksi studio songket Erika Rianti, dengan replika motif songket Minang­kabau saluak laka dan songket masa lalu, berhasil mendapatkan penghargaan dari Unes­co,” ujar Ketua Dekranasda Sum­bar, Nevi Irwan Prayitno, ke­marin (16/1).

Dekranasda berjanji mem­berikan perhatian serius ter­hadap produktivitas kerajinan budaya yang memiliki nilai-nilai filosofi Minang. Songket, sulam, bordir merupakan ba­gian dari beberapa produk­tivitas masyarakat. “Kita tidak saja mencoba mencari ceruk pasar, tetapi juga menyiapkan bahan baku yang murah agar terjangkau masyarakat. De­ngan begitu, produktivitasnya dapat lestari dan berkembang dengan baik. Kita menyadari persoalan mendasar pada pem­buatan songket di Sumbar adalah harga bahan benang sangat tinggi,” tutur Nevi.

Pimpinan Studio Songket Erika Rianti, Nanda Wirawan mengatakan, penghargaan Unesco tidak terlepas dari dukungan keluarga besar Eri­ka Rianti dan Iswandi suami tercinta yang sekaligus sebagai desainernya. Saat ini, sudah lebih dari 180 kain produksi, yang telah terjual ke Malaysia, Singapura, Jakarta, dan museum songket.

“Kita telah memakai pe­war­naan alam, tidak lagi me­ma­kai perwarnaan berbahan kimia. Saat ini kita sa­n­gat berharap bagaimana ba­han benang tidak lagi terma­suk bahan impor mewah, atau pajak bea cukai dapat diku­rangi, sehingga biayanya bisa murah,” tuturnya.

Di sisi lain, Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan So­sial (LKKS) Sumbar, Nevi Irwan Prayitno menerima peng­hargaan Posdaya Award bagi penggerak pemberdayaan keluarga pada 12 Januari 2012 pada Acara Apresiasi Peng­gerak Pemberdayaan Keluarga di Jakarta.

Penghargaan itu apresiasi dari Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) yang dipimpin Prof Dr Haryono Su­yono kepada institusi dan tokoh penggerak pember­da­yaan ke­luarga baik dari kala­ngan pe­merintahan kabu­pa­ten/kota, perbankan, pergu­ruan tinggi, Posdaya maupun organisasi sosial/kema­sya­rakatan.

Nevi Irwan Prayitno dinilai berjasa menumbuhkan pem­berdayaan keluarga melalui Posdaya di Provinsi Sumbar. Pada dua tahun terakhir ini, di Sumbar sudah menumbuhkan Posdaya berjumlah sekitar 1.000 unit bersama universitas, masyarakat dan LKKS kabupaten/kota se-Sumbar.

Provinsi lain yang juga mendapatkan penghargaan di antaranya Gorontolo, NTB, Bali, dan Yogyakarta.  Hadir pada acara tersebut Menko Kesra Agung Laksono, Titik Suharto Ketua Yayasan Su­per­semar serta beberapa pejabat instasi pusat. Acara bertempat di gedung serbaguna Universitas Islam Negeri (UIN) Mau­lana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur.
Padek, Kamis (17/1/2013)

0 komentar:

Posting Komentar