“Suatu prestasi yang patut kita
banggakan. Hasil produksi studio songket Erika Rianti, dengan replika
motif songket Minangkabau saluak laka dan songket masa lalu,
berhasil mendapatkan penghargaan dari Unesco,” ujar Ketua Dekranasda
Sumbar, Nevi Irwan Prayitno, kemarin (16/1).
Dekranasda berjanji memberikan
perhatian serius terhadap produktivitas kerajinan budaya yang memiliki
nilai-nilai filosofi Minang. Songket, sulam, bordir merupakan bagian
dari beberapa produktivitas masyarakat. “Kita tidak saja mencoba
mencari ceruk pasar, tetapi juga menyiapkan bahan baku yang murah agar
terjangkau masyarakat. Dengan begitu, produktivitasnya dapat lestari
dan berkembang dengan baik. Kita menyadari persoalan mendasar pada
pembuatan songket di Sumbar adalah harga bahan benang sangat tinggi,”
tutur Nevi.
Pimpinan Studio Songket Erika Rianti,
Nanda Wirawan mengatakan, penghargaan Unesco tidak terlepas dari
dukungan keluarga besar Erika Rianti dan Iswandi suami tercinta yang
sekaligus sebagai desainernya. Saat ini, sudah lebih dari 180 kain
produksi, yang telah terjual ke Malaysia, Singapura, Jakarta, dan museum
songket.
“Kita telah memakai pewarnaan alam,
tidak lagi memakai perwarnaan berbahan kimia. Saat ini kita
sangat berharap bagaimana bahan benang tidak lagi termasuk bahan
impor mewah, atau pajak bea cukai dapat dikurangi, sehingga biayanya
bisa murah,” tuturnya.
Di sisi lain, Ketua Lembaga Koordinasi
Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumbar, Nevi Irwan Prayitno menerima
penghargaan Posdaya Award bagi penggerak pemberdayaan keluarga pada 12
Januari 2012 pada Acara Apresiasi Penggerak Pemberdayaan Keluarga di
Jakarta.
Penghargaan itu apresiasi dari Yayasan
Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) yang dipimpin Prof Dr Haryono Suyono
kepada institusi dan tokoh penggerak pemberdayaan keluarga baik dari
kalangan pemerintahan kabupaten/kota, perbankan, perguruan tinggi,
Posdaya maupun organisasi sosial/kemasyarakatan.
Nevi Irwan Prayitno dinilai berjasa
menumbuhkan pemberdayaan keluarga melalui Posdaya di Provinsi Sumbar.
Pada dua tahun terakhir ini, di Sumbar sudah menumbuhkan Posdaya
berjumlah sekitar 1.000 unit bersama universitas, masyarakat dan LKKS
kabupaten/kota se-Sumbar.
Padek, Kamis (17/1/2013)







0 komentar:
Posting Komentar