Dari Diskusi Forum Editor di Wisma Indarung, PT Semen Padang
Ada apa dengan
Padang? Masihkah layak semboyan ’Padang Kota Tercinta, Kujaga dan
Kubela’ itu saat jalanan menjadi ladang pembantaian. Kesemrawutan dan
kontainer sampah jadi tontonan. Jangan-jangan, pembiaran dan lemahnya
penegakan hukum menjadikan Padang sebagai kota tidak bertuan. Dihuni
oleh penduduk egois yang terjebak dengan ritual lima tahunan (pilkada).
Atau, Padang benar-benar telah mati gaya.
Forum Editor
mengupas persoalan itu dalam sebuah diskusi di Wisma Indarung, PT
Semen Padang kemarin (28/2). Dalam diskusi itu, hadir tokoh dari
berbagai kalangan. Seperti akademisi, budayawan, bundo kanduang Sumbar,
pengamat, pakar, para jurnalis, BNPD Sumbar, Lembaga Bantuan Hukum dan
kalangan mahasiswa.
Diskusi itu bertema, ”Ada Apa dengan Padang” berlangsung sejak pukul 14.15 hingga 16.15. Diskusi ini diselenggarakan Padang TV (Grup Padang Ekspres) dan di-relay RRI dan Classy FM
tersebut semua forum bicara tentang Kota Padang menurut versinya
masing-masing. ”Kalau cinta dengan Padang, bicarakan kejelekannya, tapi
jangan menghina,” ungkap tokoh ulama Sumbar, Buya Mas’oed Abidin.
Mas’oed Abidin menilai,
buramnya kondisi Kota Padang hari ini disebabkan program-program
pembangunan yang direncanakan pemerintah, hanya mengarah kepada
pembangunan fisik. Sementara, menurutnya, terpenting adalah pembangunan
watak warga Padang. ”Ini yang belum terjamah,” ungkapnya.
Ketua Umum Bundo Kanduang Puti
Reno Raudha Thaib berkomentar, akar dari permasalahan itu,
pembiayaran. Saat indikasi-indikasi yang akan menjadi penyakit di
tengah-tengah masyarakat baru muncul, tidak cepat diantisipasi. Setelah
menjamur, akan menjadi sulit untuk dipadamkan.
”Seperti tenda ceper dan
personal yang jualan di sepanjang trotoar. Untuk itu, pendidikan
masyaraakat harus dilakukan secara terus menerus. Dengan adanya
konsistensi, budaya tertib akan dapat diterapkan. Kepada Cawako,
jangan hanya menyorot tetapi lebih kepada mencarikan solusi dengan
rancangan program yang konkret,” ungkap Raudha Thaib.
Wartawan senior Eko Yance
berpendapat, gempa selalu menjadi kambing hitam, saat bicara perihal
pembangunan, pelayanan umum dan transportasi. Semangat masyarakat dan
pejabat harus dikembalikan. Jangan biarkan Padang menjadi kota yang
kesepian dari investor.
”Izin yang diberi lebih banyak
untuk perhotelan, bertambahlah hotel-hotel. Namun para wisatawan dan
pengunjung, tetap saja beralih ke Bukittinggi dan Batusangkar. Mestinya
jangan hanya hotel, tapi juga manufaktur dan pabrik-pabrik serta
ekonomi kreatif,” ujarnya.
Alumni Fakultas Teknik Unand,
Yossyafra, melihat Padang dari sisi ruang pelayanan umum dan
transportasi. Kata Yossyafra, ruang-ruang publik telah dirampas oleh
personal. Trotoar yang seharusnya menjadi milik pejalan kaki,
dimanfaatkan oleh individu untuk berjualan.
”Seharusnya, semua lapisan
harus budayakan tertib berlalu lintas. Kendaraan manfaatkanlah badan
jalan, sementara trotoar, yang luasnya sekitar 2,8 meter
manfaatkanlah oleh pejalan kaki. Itu haknya. Tertib berlalu lintas
ditopang oleh sarana dan prasarana. Bagaimana masyarakat mau taat
lampu merah, kalau lampu merahnya tidak hidup,” jelas pria lulusan
magister dan doktoral Australia itu.
Belum lagi, seluruh kelurahan
yang aksesibilitasnya rendah. Kelurahan yang sulit dicapai. Akibatnya,
biaya ekonomi masyarakat tinggi. Menuju ke suatu kawasan, harus naik
dua hingga tiga kali angkutan umum. Kondisi ini, membuat Padang mati
gaya.
Lontaran komentar Bobby Lukman.
Masyarakat terjebak dengan rutinitas lima tahunan (pilkada). Sementara
pakar hukum Miko Kamal berasumsi, Padang kota tak bertuan. ”Peradaban
masyarakat rendah. Untuk itu, perlu membangun peradaban melalui
penegakkan hukum,” ungkap Miko Kamal.
Budayawan Yusrizal KW, turut
menyumbangkan pemikiran. Menurutnya, jika Padang kota tercinta, maka
mencintai sebuah kota, dengan peradaban dan budayanya. Pemimpin harus
jadi cermin masyarakat. ”Media jangan lakukan pembiayaran,”
pungkasnya.
Agar budaya kuat, masyarakat
kota Padang jangan egois. Padang butuh pemimpin, bukan pejabat.
Memimpin masyarakat lewat pembentukan watak, konsisitensi dan misi
yang baik. Harus ada pencerdasan publik. Jangan sampai, 65 persen
masyarakat yang rendah tingkat pendidikan dasar, dijadikan ladang
keuntungan agenda lima tahunan itu. Pemimpin tidak hanya orientasi
pada jabatan tetapi lebih kepada nilai-nilai ekonomi.
Padek, Jumat, (01/03/2013) by cr1/Debi Virnando







0 komentar:
Posting Komentar