Geliat Islam kian
terasa sejak 10 tahun terakhir di Amerika Serikat. Di Islamic Center of
New York, tercatat 250 orang mualaf tiap tahun. Salah seorang tokoh
paling berpengaruh di balik syiar Agama Islam di negeri Paman Sam itu
adalah Ustad Syamsi Ali.
DUA hari lalu—Senin
hingga Selasa (24-25/3)—Ustad Syamsi Ali melakukan kunjungan dakwah ke
Padang. Sebelumnya, ulama besar Amerika ini juga mengunjungi
Jakarta, Balikpapan, Bulukumba dan Makassar (Sulawesi Selatan).
Setiap kunjungannya, Ustad Syamsi berbagi spirit mengembangkan Islam di
negeri Barack Obama itu.
“Dakwah Islam di Amerika didanai kantong
sendiri. Di sana, dai tidak digaji. Tak jarang pula, saya dicurigai
karena perawakan tidak bule,” papar Ustad Syamsi ketika ditemui Padang Ekspres di Masjid Istiqomah, Sawahan, Kecamatan Padang Timur, kemarin (26/3).
Dua hari di Padang, agenda Ustad Syamsi
benar-benar padat. Senin, Ustad Syamsi berceramah di Masjid Jabal
Rahmah Komplek PT Semen Padang, Indarung dan Kampus UPI. Kemarin,
Ustad Syamsi ceramah di Masjid Nurul Ilmi Kampus Universitas Andalas
Limaumanih usai Shalat Subuh, siangnya ke Masjid Istiqomah, dan sejumlah
agenda lainnya.
Perdamaian dunia diyakini Ustad Syamsi,
dapat terwujud jika keadilan tercapai karena keadilan bermuara pada
kesejahteraan. Untuk mewujudkan itu, seluruh kegiatan manusia haruslah
beranjak dari nilai-nilai keislaman.
“Seperti pedagang, jual beli dengan kaidah mu’amalah, tenaga pendidik mengajar dengan mawaddah wa rahmah, dan politikus menjadikan politik wahana untuk membangun masyarakat adil dan berkeadilan sesuai tuntunan syariat,” katanya.
Pertarungan dakwah di Amerika, turut
mewarnai pengajian Ustad Syamsi Ali. Upaya membangun hubungan baik
dengan agama lain, menurut Ustad Syamsi, merupakan usaha tidak mudah.
Rutinitas itulah yang digelutinya usai menerima tawaran berdakwah di
New York awal tahun 1997 lalu.
Kesempatan berdakwah di Paman Sam, berawal
pada musim haji tahun 1996 lalu. Waktu itu, Ustad Syamsi berkesempatan
berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah di Arab Saudi. Putra
Bulukumba, Sulawesi Selatan itu bertemu jamaah haji luar negeri,
termasuk Dubes RI untuk PBB. Dari situlah tawaran berdakwah di New
York menghampirinya. Kini, pria kelahiran 5 Oktober itu dipercaya
sebagai imam besar di Islamic Centre of New York.
Geliat Islam di Amerika akhir-akhir ini
memang menakjubkan. Ketertarikan warga setempat terhadap Islam
semakin meningkat. Namun, gairah itu belum diiringi dengan keberadaan
dai di Amerika Serikat. “Ini bertolak belakang dengan Indonesia. Jumlah
dai terus meningkat, sementara kecintaan penganut makin menurun.
Kegiatan keagamaan sebatas simbolisasi. Seakan mengabaikan nilai-nilai
substansi,” ujarnya.
Melalui kegiatannya selama dua minggu di
Indonesia ini, Ustad Syamsi ingin menginformasikan gerak dakwah dan
pertumbuhan muslim di Amerika. Road show dakwah ini bertajuk “Meretas Dakwah Melintas Batas”
Ustad Syamsi memiliki keinginan kuat
memiliki gedung khusus di New York untuk pusat pembinaan para mualaf.
Gedung juga berfungsi menciptakan dai-dai bule; berkulit putih, bermata
biru, dan berambut pirang. “Kita akan satukan visi menciptakan
dai-dai baru lewat pembinaan intensif,” ujar Ustad Syamsi.
Selain jadi imam besar pada Islamic Center,
masjid terbesar di New York, Ustad Syamsi juga dipercaya menjadi
Direktur Jamaica Muslim Center. Ini adalah yayasan dan masjid di
kawasan timur New York yang dikelola komunitas muslim asal Asia
Selatan, seperti Bangladesh, Pakistan dan India.
“Amerika dalam banyak hal, lebih pantas
dikatakan negara Islam ketimbang banyak negara yang diakui sebagai
negara Islam saat ini,” kata pria berasal dari sebuah desa kecil di
Sulawesi Selatan tersebut.
Negara kiblat demokrasi dunia itu, katanya,
lebih banyak menegakkan syariat Islam ketimbang negara-negara
mengaku mengusung syariat. “Seorang muslim paham soal konsep
masyarakat dalam Islam, tidak akan pernah mempermasalahkan itu lagi.
Sebaliknya, nonmuslim harusnya tidak perlu over worried mengenai hal tersebut,” tegasnya.
Di setiap dakwahnya, Ustad Syamsi
senantiasa menyebutkan bahwa Islam adalah agama mengakui persaudaraan
umat manusia. “Islam tak membenci umat lain. Justru Islam datang untuk
mengangkat derajat manusia,” kata Ustad Syamsi.
Dia termasuk ulama berperan penting
mengembalikan kepercayaan warga Amerika pasca-serangan teroris gedung
WTC pada 11 September 2001 lalu. Sejak itu, semakin banyak orang di
Amerika Serikat ingin tahu lebih mendalam mengenai Islam. “Inilah tugas
saya untuk memberi penjelasan sebenarnya soal Islam yang rahmatan lil alamin,” katanya.
Padek, Rabu (27/03/2013) by cr1







0 komentar:
Posting Komentar