Masyarakat dituntut cerdas menyaring suguhan televisi. Di era konglomerasi media menjadi corak industri media di Indonesia pascareformasi, media cenderung dijadikan alat propaganda oleh para pemilik modal.
Demikian terungkap dalam diskusi pemutaran film bertajuk Di Balik Frekuensi
di Gedung Galeri Taman Budaya Sumbar, kemarin (19/2). Film yang
disutradarai Ucu Agustin tersebut, mengangkat fakta tentang
konglomerasi televisi dan beberapa kasus yang mempersoalkan
kepemilikan media.
Film dokumenter ini mengisahkan pemecatan (PHK) Luviana, seorang jurnalis yang telah bekerja selama 10 tahun di Metro TV.
Selain Luviana, film ini juga menceritakan dua warga korban lumpur
Lapindo, Hari Suwandi dan Harta Wiyono, yang berjalan kaki dari Porong
(Sidoarjo) ke Jakarta.
Diskusi yang diadakan
Komunitas Puta Pilem Padang bekerja sama dengan Taman Budaya Sumbar itu
melibatkan kalangan pers, akademisi, praktisi pertelevisian, KPID
Sumbar, mahasiswa, seniman, budayawan dan aktivis LSM.
Syofiardi Bachyul JB, yang
didaulat sebagai pemantik (pemancing) diskusi mengatakan, media hari
ini tidak ubahnya semasa Orde Baru. Bedanya, ketika Orde Baru dipegang
penguasa, hari ini dipegang pengusaha (konglomerat). “Media jadi alat
propaganda pascademokrasi, sama halnya zaman Orde Baru,” tuturnya.
Pemantik kedua, Fitria Dona
dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sumbar, mengaku pemerintah lebih
dominan mengatur media ketimbang KPI. Untuk itu, butuh pencerdasan,
baik pengelola media maupun masyarakat sebagai penikmat. “Bukan KPI
yang dominan hari ini, melainkan pemerintah. Makanya, butuh pencerdasan
agar simpati tertuju kepada masyarakat yang tertindas,” ungkapnya.
Sebagai seorang penikmat, Eros
mengaku masyarakat menjadi korban suguhan media tak berkualitas. “Tidak
hanya insan pers yang dirugikan, masyarakat luas sebagai penikmat ikut
dinistakan,” kritik mahasiswa Unand tersebut.
Keadaan itu dinilai peserta
diskusi turut memperburuk demokrasi yang kini kian karut marut. Opini
publik terpropaganda. Kebenaran di negeri ini dikuasai segelintir
penguasa media. Tirani minoritas konglomerasi media dinilai telah
menjadi racun bagi demokrasi. Apalagi, sekitar 90% lebih masyarakat
Indonesia penikmat televisi.
“Karena itu, kekuatan
masyarakat sipil harus menjadi ’anjing penggonggong’ bagi
konglomerasi media yang semena-mena menggunakan ruang publik. Frekuensi
publik harus untuk kepentingan publik,” tegas Wapemred Padang Ekspres Nashrian Bahzein.
Pembajakan frekuensi publik oleh oligarki harus direbut kembali kalangan civil society.
Dengan mengangkat diskusi usai pemutaran film yang diproduseri Ursula
Tumiwa itu, Komunitas Puta Pilem Padang berkomitmen mendorong
penyadaran masyarakat tentang realitas sosial, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara melalui pemutaran film-film inspiratif.
Padek, Rabu, (20/02/2013) by cr1/Debi Virnando







0 komentar:
Posting Komentar