Indonesia rentan terhadap dampak pemanasan dan perubahan iklim
global. Sebagai negara maritim dan kepulauan, kenaikan suhu kerap
terjadi. Perubahan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi dapat
memicu kekeringan, erosi dan banjir akibat meningkatnya curah hujan.
Masalah lain, serangan wabah penyakit seperti campak dan DBD.
Meskipun tidak diinginkan, peristiwa alam ini dapat terjadi secara
tiba-tiba. Rela atau tidak, kelangkaan sandang, pangan, dan papan bisa
saja diderita masyarakat. Untuk itu, butuh upaya sinergis menghadapi
perubahan iklim tersebut. Saatnya masyarakat beradaptasi dan melakukan
upaya-upaya pengurangan risiko (mitigasi) perubahan iklim. Dimulai
dari hal yang sifatnya sederhana, pemakaian listrik dan keramahan akan
lingkungan.
Hal ini terungkap dalam Seminar Internasional STKIP PGRI Sumatera
Barat dengan tema “Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim” di
Hotel Grand Inna Muara, Senin (11/3). Hadir para ahli bertaraf
internasional. Yakni, Paul Burgers dari Utrech University (Belanda),
dari Bagong Pagasa Philipinne (Filipina), Charles Dugan, Senior
advisor to climate change, Kementerian Kehutanan RI, Yetti Rusli dan
Profesor asal Institut Pertanian Bogor, Rizaldi Boer dan pakar asal
Sumbar.
Direktur Program pascasarjana Universitas Bung Hatta Padang,
Nasfryzal Carlo mengatakan, perubahan iklim tidak terlepas dari
aktivitas sosio-ekonomi manusia, terutama yang berkaitan dengan
penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) dan kegiatan
lain seperti alih fungsi lahan, hilangnya jutaan hektar hutan akibat
pembalakan liar, intensifnya pembukaan lahan untuk kepentingan
pertanian, permukiman dan perekonomian. Mengakibatkan terjadinya
degradasi lahan yang berlanjut pada bencana banjir dan longsor.
Tercatat, sejak tahun 1985-2013 bencana tanah longsor telah merambah
sejumlah daerah di Padang. Pada tahun 1985, permukiman di Bukit
Gado-Gado dihancurkan. Lalu, Bukit Lantiak, Bukit Gaung, Sungaiberemas,
Bukit Mataair, Pabayan, Sitinjau dan sejumlah kawasan lain hingga
Batubusuk, Juli dan September 2012.
Di sisi lain, tiap-tiap masyarakat mempunyai kearifan lokal, kearifan tradisional, pengetahuan lokal (local expertice) ataupun kecedasan lokal (local genius).
Seperti yang disampaikan Profesor Universitas Negeri riau, Zulfan
Saam. Perubahan iklim dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat,
kecerdasan dan kearifan lokal mereka.
Masyarakat nelayan mengetahui kapan waktunya untuk melaut. Petani
juga tahu kapan harus mulai ke sawah. Kearifan lokal itu berkembang
dalam kehidupan sehari-hari baik melalui ajaran langsung maupun
dipahami dengan membaca lingkungan sekitar.
Perubahan iklim mengaburkan kearifan masyarakat tersebut, perubahan
angin dengan tiba-tiba membuat nelayan kurang mampu untuk menentukan
saat yang tepat untuk melaut. Tidak teraturnya curah hujan, membuat
petani tidak mampu lagi menentukan bulan yang baik untuk bercocok
tanam.
Keadaan itu, segelintir dampak yang dirasakan masyarakat lokal
oleh perubahan iklim global. Adaptasi dan mitigasi masyarakat akan
melahirkan kemampuan untuk menyesuaikan diri dari perubahan iklim.
Dengan demikian, masyarakat dapat mengurangi kerusakan yang
ditimbulkan dan mengambil manfaat serta mengatasi segala akibatnya
itu.
Padek, Kamis (14/03/2013) by cr1/Debi Virnando
Kamis, 11 April 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar