Kamis, 11 April 2013

Manfaatkan Kearifan Lokal Antisipasi Bencana

Indonesia rentan terhadap dampak pe­ma­nasan dan perubahan iklim global. Sebagai negara maritim dan kepulauan, kenaikan suhu kerap terjadi. Perubahan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi dapat memicu kekeringan, erosi dan banjir akibat meningkatnya curah hu­jan. Masalah lain, sera­ngan wa­bah penyakit seperti campak dan DBD.

Meskipun tidak diingin­kan, peristiwa alam ini dapat terjadi secara tiba-tiba. Rela atau tidak, kelangkaan san­dang, pangan, dan papan bisa saja diderita masyarakat. Un­tuk itu, butuh upaya sinergis menghadapi perubahan iklim tersebut. Saat­nya masyarakat beradaptasi dan melakukan upaya-upaya pengu­rangan risiko (mitigasi) peru­bahan iklim. Dimulai dari hal yang sifatnya sederhana, pema­kaian listrik dan kera­mahan akan lingkungan.

Hal ini terungkap dalam Seminar Internasional STKIP PGRI Sumatera Barat dengan tema “Mitigasi dan Adaptasi terhadap Perubahan Iklim” di Hotel Grand Inna Muara, Senin (11/3). Hadir para ahli bertaraf internasional. Yakni, Paul Bur­gers dari Utrech University (Be­landa), dari Bagong Pagasa Phi­lipinne (Filipina), Charles Du­gan, Senior advisor to climate change, Kementerian Kehuta­nan RI, Yetti Rusli dan Profesor asal Institut Pertanian Bogor, Rizaldi Boer dan pakar asal Sumbar.

Direktur Program pasca­sarjana Universitas Bung Hat­ta Padang, Nasfryzal Carlo menga­takan, perubahan iklim tidak terlepas dari aktivitas sosio-ekonomi manusia, ter­utama yang berkaitan dengan peng­gunaan bahan bakar fosil (mi­nyak bumi dan batu bara) dan kegiatan lain seperti alih fungsi lahan, hilangnya jutaan hektar hutan akibat pem­bala­kan liar, intensifnya pem­bu­kaan lahan untuk kepentingan pertanian, permukiman dan pereko­no­mian. Mengakibatkan terjadinya de­gradasi lahan yang berlanjut pada bencana banjir dan longsor.

Tercatat, sejak tahun 1985-2013 bencana tanah longsor telah merambah sejumlah da­erah di Padang. Pada tahun 1985, permukiman di Bukit Gado-Gado dihancurkan. Lalu, Bukit Lantiak, Bukit Gaung, Sungaiberemas, Bukit Ma­taair, Pabayan, Sitinjau dan sejumlah kawasan lain hingga Batubusuk, Juli dan September 2012.

Di sisi lain, tiap-tiap ma­sya­rakat mempunyai kea­rifan lokal, kearifan tradisional, penge­tahuan lokal (local ex­pertice) ataupun kecedasan lokal (local genius). Seperti yang disam­paikan Profesor Universitas Negeri riau, Zulfan Saam. Peru­bahan iklim dapat mempe­ngaruhi pengetahuan masya­rakat, kecerdasan dan kearifan lokal mereka.

Masyarakat nelayan me­nge­tahui kapan waktunya un­tuk melaut. Petani juga tahu kapan harus mulai ke sawah. Kearifan lokal itu berkembang dalam kehidupan sehari-hari baik melalui ajaran langsung mau­pun dipahami dengan membaca lingkungan sekitar.

Perubahan iklim menga­burkan kearifan masyarakat tersebut, perubahan angin de­ngan tiba-tiba membuat nela­yan kurang mampu untuk menen­tukan saat yang tepat untuk melaut. Tidak teratur­nya curah hujan, membuat petani tidak mampu lagi me­nentukan bulan yang baik un­tuk bercocok tanam.

Keadaan itu, segelintir dam­­pak yang dirasakan ma­sya­rakat lokal oleh perubahan iklim global. Adaptasi dan mitigasi ma­syarakat akan me­la­hirkan ke­mampuan untuk me­nyesuaikan diri dari peru­bahan iklim. De­ngan demi­kian, masyarakat dapat me­ngurangi kerusakan yang di­timbulkan dan meng­ambil manfaat serta mengatasi se­gala akibatnya itu.
Padek, Kamis (14/03/2013) by cr1/Debi Virnando

0 komentar:

Posting Komentar