Di era reformasi ini, sulit menemukan pemimpin yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya. Pemimpin ideal itu, orang yang bermoral baik, punya kemampuan melihat ke depan (visioner). Cepat tanggap, mampu menggerakkan, memandu serta memberikan pelayanan dan perlindungan pada masyarakat.
“Kalau banyak duit, populer,
dapat dipastikan bisa jadi pemimpin. Tapi, kendati kemampuan
memimpinnya melebihi orang-orang tersebut, namun tidak punya modal,
jangan harap bisa jadi pemimpin,” kata dosen Kebijakan Publik
Universitas Indonesia, Andrinof A Chaniago saat diskusi kebangsaan yang
diselenggarakan UKM Penggerakan Hukum dan Politik dan Pusat Studi
Humaniora (PSH) Universitas Andalas, di ruang seminar Gedung F, kemarin.
Andrinof mengatakan, sistem
pemilihan pemimpin secara umum lebih banyak menghasilkan orang-orang
yang bukan pemimpin. Namun, hanya mengantarkan orang-orang yang memiliki
status bos, politisi, selebriti, pejabat yang mahir mengumpulkan modal
dan membuka akses.
“Bukan pemimpin yang betul-betul paham dengan fungsinya sebagai pemimpin,” ujarnya.
Sejak era reformasi, partai
politik menjadi jalur utama untuk mengantarkan seseorang ke jabatan
publik eksekutif, baik presiden, gubernur dan wali kota/bupati.
“Wajar kiranya pemimpin saat
ini tidak peka pada jeritan rakyat, karena mereka hanya berjalan dengan
kuda-kuda politiknya. Tanpa mengetahui, apa dan bagaimana maunya
rakyat,” jelasnya.
Rakyat butuh pemimpin visioner
yang tidak pernah berhenti melayani dan melindungi rakyat.
“Percayalah, pemimpin visoner akan dipuji generasi yang akan datang.
Sementara pemimpin pragmatis akan disesali kehadirannya,” ujar
Direktur Cirus Surveyors Group itu.
Dosen Fakultas Sastra Unand,
Harry Effendi Iskandar yang juga menjadi pembicara mengatakan,
organisasi masyarakat (ormas) memiliki dua fungsi. Selain mengontrol
kebijakan-kebijakan kekuasaan, juga harus tetap mengemban amanah
Tridharma.
“Ormas mesti berbakti ke
masyarakat, perjuangkan aspirasi rakyat. Saat ini kita butuh
pergerakan yang jelas dan terarah, bukan adu argumen,” tuturnya.
Aktivis muda Unand, Muhnizar
Siahaan mengatakan, saat ini tidak ada pemimpin yang benar-benar
memperjuangkan nasib rakyat. Sebab, pemimpin yang terlahir dari partai
politik mengemban misi-misi sekelompok orang. “Parpol itu seperti
kalkulator, yang menghitung-hitung laba saja,” ujarnya.
Kerinduan hadirnya pemimpin
ideal juga dipaparkan Ketua UKM PHP Unand Yudi Fernandes. Melihat
pemimpin dan calon pemimpin yang tampil saat ini, ada kekhawatiran
mahasiswa terhadap masa depan negeri ini. Khawatir mendapatkan
pemimpin yang merakyat dan bukan pengumbar janji rakyat.
“Kami harap, ke depan kita
semua menemukan pemimpin yang siap untuk melayani rakyat. Bukan
sebaliknya. Inilah yang menjadi alasan UKM PHP mengangkat diskusi
ini,” ungkap Yudi Fernandes.
Padek, Jumat (05/04/2013) by cr1







0 komentar:
Posting Komentar