Kamis, 11 April 2013

Rakyat Butuh Pemimpin Visioner

Diskusi Kebangsaan PSH Universitas Andalas
Di era reformasi ini, sulit menemukan pemimpin yang bertanggung jawab atas ucapan dan tindakannya. Pemimpin ideal itu, orang yang bermoral baik, punya kemampuan melihat ke depan (visioner). Cepat tanggap, mampu menggerakkan, memandu serta memberikan pelayanan dan perlindungan pada masyarakat.

“Kalau banyak duit, po­puler, dapat dipastikan bisa ja­di pemimpin. Tapi, ken­dati kemampuan me­mim­pinnya melebihi orang-orang tersebut, namun tidak punya modal, jangan harap bisa jadi pemimpin,” kata dosen Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Andrinof A Chaniago saat diskusi kebangsaan yang dise­leng­garakan UKM Penggerakan Hukum dan Politik dan Pusat Studi Humaniora (PSH) Universitas Andalas, di ruang seminar Gedung F, kemarin.

Andrinof mengatakan, sistem pemilihan pemimpin secara umum lebih banyak meng­hasilkan orang-orang yang bukan pemimpin. Namun, hanya mengantarkan orang-orang yang memiliki status bos, politisi, selebriti, pejabat yang mahir mengumpulkan modal dan membuka akses.

“Bukan pemimpin yang be­tul-betul paham dengan fu­ng­sinya sebagai pemimpin,” ujar­nya.

Sejak era reformasi, partai politik menjadi jalur utama untuk mengantarkan seseorang ke jabatan publik eksekutif, baik presiden, gubernur dan wali kota/bupati.

“Wajar kiranya pemimpin saat ini tidak peka pada jeritan rakyat, karena mereka hanya berjalan dengan kuda-kuda politiknya. Tanpa mengetahui, apa dan bagaimana maunya rakyat,” jelasnya.
Rakyat butuh pemimpin visioner yang tidak pernah ber­henti melayani dan melindungi rak­yat. “Percayalah, pemimpin visoner akan dipuji generasi yang akan datang. Sementara pe­mimpin pragmatis akan dise­sali kehadirannya,” ujar Direktur Cirus Surveyors Group itu.

Dosen Fakultas Sastra Una­nd, Harry Effendi Iskandar ya­ng juga menjadi pembicara me­­ngatakan, organisasi mas­ya­rakat (ormas) memiliki dua fung­si. Selain mengontrol kebij­akan-kebijakan kekuasaan, juga harus tetap mengemban amanah Trid­harma.

“Ormas mesti berbakti ke masyarakat, perjuangkan as­pi­rasi rakyat. Saat ini kita butuh pergerakan yang jelas dan ter­arah, bukan adu argumen,” tuturnya.

Aktivis muda Unand, Mu­h­nizar Siahaan mengatakan, saat ini tidak ada pemimpin yang benar-benar memperjuangkan nasib rakyat. Sebab, pemimpin yang terlahir dari partai politik mengemban misi-misi seke­lompok orang. “Parpol itu se­perti kalkulator, yang meng­hi­tung-hitung laba saja,” ujar­nya.

Kerinduan hadirnya pe­mim­pin ideal juga dipaparkan Ketua UKM PHP Unand Yudi Fer­nan­des. Melihat pemimpin dan calon pemimpin yang tampil saat ini, ada kekhawatiran ma­ha­siswa terhadap masa depan negeri ini. Khawatir men­da­pat­kan pemimpin yang merakyat dan bukan pengumbar janji rakyat.

“Kami harap, ke depan kita semua menemukan pemimpin yang siap untuk melayani rakyat. Bukan sebaliknya. Inilah yang men­jadi alasan UKM PHP me­nga­ngkat diskusi ini,” ungkap Yudi Fernandes.
Padek, Jumat (05/04/2013) by cr1

0 komentar:

Posting Komentar