Taman Makam Pahlawan (TMP) Kuranji bermandikan bunga di Hari Kebangkitan Nasional. Sebanyak 293 pejuang yang bersemayam di sana menerima penghormatan dari segenap unsur musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Kuranji. Bait-bait doa diucapkan untuk para pejuang yang dijuluki Harimau Kuranji itu.
Nagari Kuranji, basis perjuangan dan kebangkitan Kota Padang dari penindasan para penjajah. Lewat barisan tentara yang berjuluk Harimau Kuranji itulah semangat dan kekuatan masyarakat dibangun. Tidak hanya di masa penjajahan, bahkan setelah Indonesia merdeka-pun puluhan pejuang masih mewakafkan nyawanya untuk Negara Kesatuan RI, khususnya Kota Padang.
Di deretan sisi kiri gerbang TMP Kuranji, puluhan nisan bergoreskan tahun 1947 terlihat. Mereka gugur bersimbah darah saat Belanda hendak menjajah Indonesia kembali setelah Kemerdekaan Indonesia di proklamirkan. Tepat pada hitungan ketiga di sisi kanannya, adalah makam seorang pejuang wanita berusia 120 tahun. Tak jauh dari deretan sana, ada pula pejuang kebal yang tewas saat ditarik sunsang olah Belanda.
”Beberapa tahun silam, sering terdengar suara rantai yang ditarik sepanjang jalan ini. Tidak tahu pasti suara apa itu. Hanya saja ada yang berpendapat kalau suara itu ada kaitannya dengan makam itu. Beliau meninggal saat ditarik sunsang. Kaki diikat dan ditarik pakai jeep. Kabarnya, beliau tidak mempan dipukul,” cerita Oyong, seorang penjaga makam.
Orang terkuat itu diarak keliling kampung. Secara tidak langsung, penjajah ingin memukul mental pasukan Harimau Kuranji lainnya. Kuranji semapt geger, harimau kebal diarak hingga tewas.
Oyong menjaga makam menggantikan ayahnya yang juga seorang pejuang dan meninggal beberapa pekan lalu. Oyong, sesekali masih merasakan keberadaan pejuang di sekitar makam. Sambil berdiri di sisi satu-satunya makam berwarna biru. ”Ini makam pertama di sini. Beliau tertembak di tahun 1947. Orang yang memegang bambu di tugu itu patung beliau,” tutupnya sambil mengarahkan jari telunjuk ke tugu utama TMP Kuranji.
Di antara makam-makam itulah, Camat Kuranji, Frengky Willianto memimpin upacara penghormatan pada para pejuang, dan memaknai Hari Kebangkitan Nasional. Dengan seragam kebanggan masing-masing, unsur muspika mengangkat tangan dan menaruh di sebelah kanan dahi secara bersamaan. Dilanjutkan dengan peletakan karangan bunga di tugu utama sebelum memandikan makam-makam dengan kelopak bunga berwarna warni.
”Semua ini sebagai bentuk penghormatan dari kami. Mengulas kembali memori, bahwa Nagari Kuranji ini nagari perjuangan,” ungkapnya usai peneburan bunga.
Kapolsek Kuranji AKP Masrial menyebutkan momen itu untuk menyadari besarnya jasa pejuang. ”Untuk itu, tetap hargai pahlawan,” kata Masrial.
Padang Ekspres, Selasa (21/05/2013) by cr1/Debi Virnando
Sabtu, 13 Juli 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar