Minggu, 14 Juli 2013

ISRA MIKRAJ, PERBAIKI 6 DIMENSI DIRI

Degradasi moral yang melanda semua lini kehidupan di negeri ini, harus dihentikan melalui gerakan masif. Salah satu akar persoalan krisis moral ini akibat pudarnya pemaknaan shalat dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah shalat yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui peristiwa Isra Mikraj, lebih pada kegiatan rutinitas semata.

Demikian benang merah pandangan Guru Besar Hukum Islam Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol Padang, Prof Asasriwarni, dan Guru Besar Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Duski Samad dihubungi terpisah, Rabu (5/6). Kedua guru besar ini mengajak umat Islam lebih memaknai momen Isra’ Mikraj jatuh pada hari ini (6/6). Terutama, mengambil pelajaran dari pelaksanaan ibadah shalat lima waktu sehari semalam. Paling tidak ada enam esensi perjalanan Isra Mikraj dilakukan Nabi Muhammad SAW.    

Asasriwarni menyebutkan, paling kurang ada enam esensi pemaknaan peristiwa bersejarah tersebut. Esensi pertama dimensi waktu. Bagaimana seseorang mampu menghargai dan berdamai dengan setiap waktu. Shalat, katanya, tidak sah dikerjakan sebelum waktunya datang. Sebaliknya, tidak pula sah jika dikerjakan setelah waktu.

“Shalat mendidik muslim menghargai waktu. Kalau datang waktu masuk kantor, ya kita ke kantor. Jangan ditunda atau melalaikan. Jika tenaga penga­jar, tiba saatnya masuk lokal. Siswa, mahasiswa dan petani juga seperti itu,” paparnya.

Dimensi kedua mesti diperbaiki, menurutnya, yakni dimensi thaharah (kebersihan dan keindahan). Sebab, shalat seseorang tidak sah kalau diri dan sekitar tempat shalat tidak bersih. Kebersihan dimulai dari tempat tinggal, lingkungan, dan kota menurut kewenangan masing-masing. Dicontohkan Asasriwarni, kebersihan kota merupakan kewenangan petugas kebersihan kota. Momen Isra Mikraj dapat dimanfaatkan Pemko Padang untuk memperbaiki dimensi kebersihan dan keindahan tata ruang kota.

“Lalu, menutup aurat. Ini sering terabaikan anak gadis kita. Kalau ketika shalat tutup aurat, setelah shalat juga harus menutup aurat. Dimensi selanjutnya dari shalat itu menghadap kiblat. Artinya, orang muslim itu mesti visioner. Tidak hanya berpikir hari ini, tapi jauh ke depan. Siswa yang mau lanjutin kuliah sudah punya visi jelas, sehingga tidak bingung milih jurusan,” paparnya.

Visi tersebut, sebutnya, harus diiringi dengan kesungguh-sungguhan layaknya fokus dan khusyuk dalam shalat. “Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan mendapatkan. Dia akan berhasil,” tegasnya.

Pelajaran terakhir dari pengerjaan shalat yaitu, kepatuhan dan loyalitas terhadap imam. Dijelaskan Asasriwarni, imam dikatakan juga pemimpin. Muslim yang mengerjakan shalat merupakan orang Islam yang taat pada pemimpinnya.

“Kalau ingin memaknai Isra Mikraj kali ini, maknailah dengan mengambil pelajaran dari shalat tadi. Intinya, bagaimana seorang muslim dapat menghargai dan tepat waktu saat menggeluti kegiatan sehari-hari. Menerapkan pola hidup bersih, menjaga aurat, visioner dan bersungguh-sungguh dalam setiap tindakan. Kemudian loyal pada imam atau pimpinan,” kata Asasriwarni.

Di sisi lain, Duski Samad mengatakan, dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Bila daging itu baik, maka akan baiklah sekujur tubuh. Tetapi apabila daging itu rusak, dicemari oleh penyakit, maka akan rusak sekujur tubuh, yaitu al-qalb (hati) (HR: Bukhari-Muslim). Ini berarti bahwa hati mempunyai peran sangat menentukan sukses atau gagalnya kehidupan manusia.

Agar hati manusia berfungsi efektif dan berdaya guna untuk kemaslahatan jiwa dan peningkatan moral bangsa, maka ia mesti disehatkan melalui shalat. Shalat dilaksanakan dengan benar, tetap dan tepat. Daimun (waktu, rukun zikri, qauli dan fi’li), adalah obat mujarab made in Allah Yang Maha Penyembuh (as-Syaafi) untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan tercemarnya hati (al-qalb) yang berakibat tercemarnya sekujur tubuh, lingkungan dan masyarakat luas.

“Hati resah gelisah, hasad dengki, cemas takut, loba kikir, depresi dan penyakit hati lainnya, insya Allah akan dapat disehatkan, dan dikurangi beban dan bobotnya atau disembuhkan dengan mendirikan shalat secara khusyuk. Dan, hidup tenteram akan terwujud dalam kenyataan kapan dan di mana pun berada,” sebutnya.
Padang Ekspres, Kamis (6/6/2013) by cr1/Debi Virnando

0 komentar:

Posting Komentar