Sabtu, 13 Juli 2013

BALIMAU, TETAP SUBUR MESKI SABAN TAHUN DIKRITISI

Ramadhan dan ritual balimau tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Sumbar. Seperti apa keterkaitan antar keduanya, adakah mereka punya hubungan, atau, jangan-jangan balimau hanya sekedar ajang hura-hura kawula muda. Lantas, apa kata para pemuka?

Bukan rahasia lagi, kebiasaan balimau kerap dimanfaatkan untuk ajang berpacaran. Saban tahun para ulama mengkritisi. Hingga tahun ini, fenomena balimau di kalangan masyarakat Minang makin subur.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar, Syamsul Bahri Khatib menilai tradisi balimau bertentangan dengan agama dan menyimpang dari adat budaya Minangkabau. Sebagai bulan yang suci, katanya, Ramadhan harus pula disambut dengan cara yang suci, bukan berhura-hura seperti balimau, yang jelas mudaratnya.

“Tidak perlu fatwa untuk kebiasaan itu (balimau, red). Sudah jelas haramnya. Ber­te­n­tangan dengan agama dan me­len­ceng dari adat istiadat Mi­nang­kabau. Itu kebiasaan yang sesat lagi menyesatkan. Kalau­pun dulu ada kebiasaan balimau oleh sebagian masyarakat kita, tepiannya (sungai, red) tertutup dan terpisah antara yang perem­puan dan laki-laki,” tegas Syamsul Bahri Khatib.

Menurut Ketua Badan amil zakat nasional (Baznas) Sumbar itu,  maraknya balimau didasarkan pada ketidak pahaman masyarakat. Perbuatan yang seolah-seolah baik namun haki­katnya tidak baik. Dia menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mencegah kebiasaan tersebut. Demikian juga kepada pemerintah, himbaunyanya, pemerintah tidak memfasilitasi kegiatan balimau. “Jika perlu Dinas Pariwisata menutup semua tempat yang akan digunakan untuk balimau. Jangan agama dijadikan alasan eko­nomi,” terangnya.

Selain itu orangtua harus mencegah anak-anaknya agar tidak terbawa dan ikut-ikutan. Yang tua harus memberikan penjelasan kepada yang muda. “Kita harapkan kepada masyarakat, bulan Ramadhan itu suci maka sambutlah dengan cara yang suci. Yakni dengan mengambil keberkahannya. Mengambil mutu dan manfaat, peningkatan kebaikan dan ketertiban. Sebab kalau sudah kacau, tidak ada lagi keberkahan,” im­buhnya.

Beragam objek wisata akan diserbu warga setiap tahunnya.  Seperti di Padang, sebut saja di Lubuk Minturun, Airdingin, Lori, Lubuk Lukum di Kecamatan Kototangah, dan Batang Guo, Lubuk Tempurung serta Batang Kuranji di Kecamatan Kuranji.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumbar, Dasril Ilyas, menerangkan, hakikat dari balimau sebetulnya untuk membersihkan dan menyucikan diri dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Namun itu justru disalah artikan. “Kita lihat saat ini, justru muda-mudi pergi balimau untuk hura-hura. Mandi bercampur antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Bukan itu maksud balimau yang sesung­guhnya,” tegas Dasril.

Dia mengatakan, balimau tidak harus dilakukan di tempat pemandian, tapi bisa dilakukan di rumah. Yang terpenting niatnya. Ini yang kerap jadi salah kaprah. Untuk mencapai hal baik dengan cara yang tidak baik, maka akan berujung pada hasil yang tidak baik.

Untuk mengantisipasi kebia­saan seperti itu, Dasril menegaskan, para tokoh ulama, tokoh adat, masyarakat, perlu membimbing generasi muda, terutama para orangtua. “Berikan pemahaman pada mereka, jika tradisi balimau dengan bepergian berdua-duaan, merupakan hal yang dilarang, dan itu tidak boleh dilakukan,” tuturnya.

Senada dengan itu, Pengamat Sosial Kemasyarakatan, Jhon Farlis melihat balimau sudah menjadi tradisi turun temurun. Gejala sosial karena meniru sesuatu yang berkembang sebelumnya. “Gejala sosial meniru yang sebelumnya, membuat muda-muda ini terperangkap. Gejala ini mesti segera dihentikan, sebab, balimau yang dilakoni generasi muda saat ini sudah menjurus pada maksiat,” tegasnya.

Lagi-lagi, peran tokoh agama yang dituntut. Peran tokoh adat, serta pemerintah. Perlu memperhatikan gejala yang telah bertahun-tahun dilakoni generasi muda ini.

“Saya harap pemerintah yang me­miliki wewenang, dapat membuat kebijakan tegas untuk menghentikan kebiasaan balimau yang dapat menodai kesucian Ramadhan ini. Begitu juga tokoh ulama, adat, dan juga masyarakat. Mari bersama-sama kita hentikan aktifitas balimau hura-hura ini,” imbuhnya.

0 komentar:

Posting Komentar