Selasa, 09 Oktober 2012

Tradisi pun Membebani

Potret Mahasiswa IAIN Jelang KKN
Matahari begitu menyengat. Hiruk pikuk ribuan mahasiswa yang terbagi di beberapa kelompok ramaikan lapangan Parkir IAIN Imam Bonjol Padang. Mereka, salah sattu kelompok dari sekian peserta KKN IAIN Imam Bonjol Padang 2010.

Pelataran parkir yang biasa disebut blok M dijadikan tempat bersua Sambil duduk bersila dan saling melempar wacana. Merancang program-program serta menetapkan kebutuhan untuk hidup selama 52 hari di lokasi KKN.

Program, dana dan segala kebutuhan dibicarakan. Tak ketinggalan, sebuah tradisi yang sudah turun temurun. Pembuatan jaket, baju kaos dan batik. Seakan menjadi kewajiban dalam penyelenggaraan KKN tiap periodenya. Peserta KKN periode XXXVI itu merancang dengan sebaik mungkin, mulai dari desain, merek, nama dan tempat pemesanannya. Tak jarang hal tersebut menjadi beban bagi peserta KKN.

Sumbangan kelompok untuk pendanaan selama dilokasi Plus uang semester yang mendesak menari-menari di benak Adi salah satu peserta KKN. Niat hati hendak tersenyum menyaingi tawa yang lainnya menyambut KKN, tapi tak bisa menjangkau senyum itu. Uang Iuran sebesar Rp. 750.000 harus disiapkan Adi. Tak ada celah untuk mengatakan tidak sanggup.

Sedikit cerita, mahasiswa Fakultas Syari’ah yang KKN di Kabupaten Pesisir Selatan ini terlahir dari keluarga sederhana, di kaki Gunung Talang. Kedua orang tuanya harus bekerja setiap hari untuk mengganjal perut anak-anaknya. Mencicil, agar tetap mempertahankan status sebagai mahasiswa menjadi kebiasaan. Adi-pun termangu di sudut blok M.

Di salah sisi perempatan, tepatnya pada sepasang bangku polongan penghubung lapangan parkir dengan fakultas tarbiyah. Tatapan Gedung Serba Guna menjadi saksi kekosongan hati pria yang aktif di salah lembaga kemahasiswaan institut ini. Hp Nokia keluaran tahun 2000-an yang disimpan di dalam kantong seragam ujian bewarna putih-putih Adi berdering. Sebuah pesan singkat masuk, “Maaf nak, Mak Etek ndak bisa pinjaman pitih, utang untuak bayia uang semester yang dulu alun ibu lunasan lai (Ibu)", papar si Ibu lewat pesan singkat.

Detik itu, siang diselimuti bayangan kusam kehidupan keluarga. Memang, nasibnya tak seberuntung peserta KKN lainnya.

Sebut saja Leni Ristiani. Mahasiswa KKN Periode XXXVI yang ditempatkan di Kabupaten yang sama. baginya, setuju dengan kesepakatan kelompok, membuat jaket sebagai kenang-kenangan dan tanda kebersamaan.

Tradisi turun-temurun tanpa catatan sejarah ini sudah pasti meng-cancel senyum Adi dan Adi-Adi lainnya. Ketua Pusat Pengabdian Masyarakat (PPM) IAIN IB Drs.Syafrial N, M.Ag berpesan, agar iuran kelompok yang disepakati jangan membebani orang tua, seperti iuran Rp.900.000/orang untuk buat spanduk, jaket dan kebutuhan hidup selama berada di lokasi. "Masyarakat tidak butuh jaket, tetapi butuh sentuhan agama dalam sebuah pengabdian," ujarnya, Selasa (27/07).

Senada dengan Syafrial, Ketua BP KKN periode XXXVI Gazali, pernah juga melarang kebiasaan peserta KKN tersebut. Tetapi karena semangat kebersamaan mahasiswa, larangan-larangan tersebut dileburkan, dengan catatan tidak membebani mahasiswa.

Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama, masih pantaskan pelestarian tradisi yang membebani itu, andaikan masih ada puluhan Adi di kampus kita ini?.
Portal berita SUARA KAMPUS, Selasa (23/08/2010) 01:42 WIB | by Debi Virnando

0 komentar:

Posting Komentar